Kedai kopi, di mana pun, termasuk Kedai Kopi Litera, adalah lebih dari sekadar pelabuhan bagi penikmat kopi, telah menjadi arena bagi demokrasi yang berbisik dan terkadang berteriak.
Di tengah riuh rendah percakapan di kedai kopi, selalu terdapat semesta ide yang terbuka, seperti digambarkan dalam buku “The Public and its Problems” oleh John Dewey. Dalam pemikirannya, Dewey menguraikan tentang pentingnya komunikasi dalam demokrasi. Kedai kopi, dalam konteks ini, menjadi ruang publik Dewey – tempat di mana warga dapat berkumpul, berinteraksi, dan membentuk opini publik. Di sini, terjadi pertukaran gagasan yang autentik, di mana demokrasi bukan hanya sebatas teori atau retorika, tetapi menjadi praktek kehidupan sehari-hari.
Demokrasi di Indonesia, sebuah epik yang terus bergulir, penuh liku dan drama. Di panggung politik, ada yang bermain dengan skenario kekuasaan, menjadikan demokrasi sandiwara yang terkadang kering dari substansi. Namun, di kedai kopi, di antara riuhnya percakapan, tercipta narasi yang berbeda. Di sini, tidak ada skenario yang dipaksa, tidak ada dialog yang diarahkan. Hanya ada kejujuran, sesederhana hujan yang turun pada atap seng, sesederhana kopi yang menyatu dengan air.
Namun, seperti yang dinyatakan oleh Alexis de Tocqueville dalam buku “Democracy in America,” demokrasi menghadapi tantangan dalam bentuk tirani mayoritas dan kehilangan individualisme. Di kedai kopi, tirani ini sering terlihat dalam bentuk monopoli suara-suara terkuat yang menggema, sementara suara lain teredam. Di sisi lain, kedai kopi juga menawarkan pelarian dari keseragaman pikiran yang dituntut oleh politik kekuasaan, memungkinkan individualitas berkembang dalam percakapan.
Di meja-meja kayu yang usang, terpahat cerita. Di sana, rakyat berbicara, bukan hanya dalam kata, tapi dalam debaran hati yang bergelora. Mereka, para penjelajah mimpi dan pemikir kritis, mengurai benang-benang pikiran tentang negeri ini, tentang demokrasi yang merindukan hujan keadilan.
Serupa kegelisahan namun digambarkan penuh satire yang penuh humor dalam buku “Republik Temu-Lawak” yang ditulis owner Kedai Kopi Litera, Alfian Nawawi, kita memang harus terkadang berani melemparkan kerikil ke atas telaga yang tenang namun sesungguhnya sedang tidak baik-baik saja. Lantaran di dasarnya, kita harus mengetahui, jenis buaya ganas apa saja yang sedang berdiam di sana.
Seperti secangkir kopi yang merekah aroma dan rasanya, begitu pula demokrasi. Ada pahit, ada manis, dan ada kehangatan. Di kedai kopi, tiap suara yang bergema adalah kuas yang menyapukan harapan, kekecewaan, dan mimpi pada kanvas itu. Di setiap tegukan kopi, ada cerita rakyat yang ditelanjangi oleh realitas politik, namun tetap teguh dan berharap pada masa depan.
Mirip dengan kegelisahan dalam film “The Human Condition,” kedai kopi di Indonesia menjadi ruang untuk ‘vita activa’ – kehidupan aktif di mana tindakan dan kata-kata memiliki kekuatan untuk mempengaruhi. Pentingnya ruang publik bagi kehidupan politik dan kedai kopi memenuhi fungsi ini. Di sini, warga tidak hanya bertukar pikiran, tetapi juga beraksi, menentang stagnasi dan pasivitas yang sering kali membekap demokrasi.
Di antara tembok-tembok kedai kopi, terdengar suara-suara yang tidak puas, yang mendamba kedaulatan bukan hanya sebagai kata, tetapi sebagai kenyataan. Ada kekecewaan, ada harapan, dan ada keberanian. Seperti kopi yang mereka teguk, pahit, hangat, dan memberi energi. Di sana, di kedai kopi, terjadi bukan hanya sekadar percakapan, tetapi juga kelahiran ide-ide revolusioner, wacana yang mengusik, dan mimpi tentang demokrasi yang lebih autentik.
Tantangan demokrasi, seperti yang dijelaskan oleh Francis Fukuyama dalam “The End of History and the Last Man,” adalah menciptakan keseimbangan antara kebebasan dan kesetaraan. Di kedai kopi, dinamika ini terlihat jelas: kesetaraan dalam berbicara, tetapi ketidakseimbangan dalam dampak. Diskusi mungkin meriah dan inklusif, tetapi sering kali kurang mampu menerjemahkan gagasan menjadi aksi nyata.
Di antara dinding-dinding yang meresap asap dan cerita, kedai kopi menjadi simbol resistensi dan keberanian. Di tengah kegaduhan dunia, suara-suara ini mungkin terdengar kecil, namun bagai kopi yang menyebar aromanya, mereka memberi dampak. Dalam setiap percakapan, ada kekuatan, ada perlawanan, ada permulaan untuk demokrasi yang lebih otentik.
Dalam konteks Indonesia, kedai kopi menjadi medium penting, seperti yang dikatakan Jürgen Habermas tentang ruang publik. Di dalam buku “The Structural Transformation of the Public Sphere,” Habermas mendiskusikan bagaimana ruang publik bisa menjadi media bagi masyarakat untuk membentuk opini publik yang rasional. Kedai kopi mewujudkan ide ini, menjadi tempat di mana opini publik di Indonesia tidak hanya terbentuk, tetapi juga teruji.
Demokrasi, ah, kata yang begitu akrab di telinga, tetapi sering terasa asing di hati. Di Indonesia, di bawah langit yang sering mendung oleh polemik, demokrasi menjadi tarian yang kompleks, penuh irama tapi sering tak beraturan. Di atas panggung politik, demokrasi seolah menjadi boneka yang diatur tali-talinya oleh para penguasa, yang lebih sering berbicara atas nama kekuasaan daripada rakyatnya.
Kedai kopi, dengan semua kepadatannya, menjadi simbol perjuangan rakyat. Ini bukan hanya tentang politik, tetapi juga tentang kehidupan, tentang hak untuk didengar, untuk diakui. Dan di setiap tegukan kopi, terkandung keinginan untuk perubahan, untuk negeri yang lebih adil dan merdeka. Di sinilah, di ruang sempit penuh asap dan bisikan, kita menemukan inti dari demokrasi – sebuah dialog tanpa henti, sebuah perjuangan yang tak pernah reda.
Di negeri yang dilukis dengan palet warna keragaman, demokrasi ibarat lukisan yang belum selesai. Warnanya beraneka, kadang terang, sering kali gelap. Di kedai-kedai kopi, yang berdiri di penjuru kota, di pesisir pantai, atau di tepi jalan desa, tercipta suatu panorama demokrasi rakyat. Di sini, di meja-meja yang bersaksi banyak perdebatan, di kursi-kursi yang telah diukir oleh waktu, terbentang kanvas untuk melukis demokrasi.
Kedai kopi, bagi banyak orang, bukan sekadar tempat berteduh dari hujan atau panas, tetapi juga dari tirani dan kekecewaan. Di sana, di antara setiap sorot mata yang berbicara, tiap senyum yang terukir, dan tawa yang bergema, terbentang jembatan menuju demokrasi yang lebih manusiawi. Di dalam cangkir-cangkir itu, bukan hanya kopi yang disajikan, tetapi juga harapan, ide, dan revolusi.
Namun, seperti aroma pada fakta yang ada, ‘menu revolusi’ belum bisa dipesan hari ini. Belum seperti detik-detik menjelang jatuhnya Orde Baru, atau jauh ke belakang ketika Revolusi Prancis berdengung di Eropa. Ayolah, lebih banyak lagi kita harus ngopi sambil menyeruput ‘menu revolusi’.***